Jumat, 25 Mei 2012

yang Pergi dan Kembali Pergi


“Tik..tik...tik”
Malam ini hujan lagi-lagi menyapa, tiap tetesnya seakan membersihkan debu-debu jalanan yang menempel di aspal sejak tadi siang. Hawa dingin kian terasa membalut atmosfer kehidupan dengan penuh gairah nakal.
Aku pun ikut menggigil bersama suara halilintar yang menyambar-nyambar di luar sana. Dinding-dinding papan yang sebagian sudah koyak ini, tentu saja tak mampu memberi kehangatan bagi tubuh ku. Di malam-malam seperti ini rasa itu kembali beranak-pinak menyesaki hatiku. Rasa itu begitu perih dan perlahan sudah mulai menghambar di dadaku. Terlampau lama bersarang dan meninggalkan semburat luka yang mendalam. Lantas aku pun hanya mampu terdiam dalam malam pekat berbalut kehampaan.
Ibu sudah sering menasihatiku dalam ketuaannya. Tubuh ringkih nya tergoncang-goncang karena batuk yang tak kunjung sembuh, tapi dia tak pernah bosan apalagi putus asa mengingatkanku. Aku bahkan sudah hafal setiap rangkaian kata yang akan keluar dari mulut keriputnya setiap kali itu terjadi.
Aku memang anak semata wayang, dan semenjak ayah meninggal tujuh tahun yang lalu, aku tinggal berdua bersama ibu di rumah sederhana kami ini. Aku memang tak sempat mengenyam bangku kuliah hingga ke pulau Jawa seperti sebagian teman-teman SMA ku, tapi aku mampu mandiri menghidupi ibu dan diriku sendiri dengan bekerja menambang timah seperti layaknya lelaki lain di Pulau Belitung ini. Aku bukanlah anak yang tak terlalu pandai di sekolah dulu, tapi sebuah faktor sentimentil serupa masalah keuanganlah yang menyebabkan aku tidak melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi. Jadi lah aku seperti sekarang ini, menjalani putaran waktu kehidupan di kampung kecil ini, menambang kekayaan alam yang entah sampai kapan mampu menopang pundi-pundi perekonomian sebagian besar penduduk di sini.  
***
Siang itu mendung masih menggelayut seperti sore tadi. Dengan tergesa-gesa aku bergegas pulang ke rumah setelah lelah seharian ngelimbang. Setelah keluar hutan dan bertemu jalan aspal aku terus memacu sepeda motor kesayangan ku ini. Sebentar lagi hujan akan turun pikirku. Jalanan tampak lengang, walaupun biasanya memang tak selalu ramai. Maklumlah ini adalah jalan menuju sebuah pantai, persawahan, daerah transmigrasi, dan tentunya beberapa lokasi penambangan timah. Oleh karena itu, tentu saja tak begitu ramai dilalui masyarakat yang hilir mudik.
Angin berhembus merdu menerpa wajahku yang hitam legam. Sementara itu ilalang di kiri kanan jalan tampak bergoyang-goyang begitu gemulainya. Aku terus berkendara sambil menggendong ransel bututku yang setia menemani sejak SMA dulu, kini isinya bukan lagi buku-buku pelajaran tentunya, tapi  bekal yang selalu disiapkan ibu untuk mengganjal perutku saat ngelimbang. Beberapa saat kemudian aku sudah melewati beberapa rumah warga yang jaraknya cukup berjauhan satu sama lain. Belakangan beberapa orang memutuskan untuk membangun rumah di sekitar jalanan ini. Tak hanya rumah-rumah warga, tapi beberapa toko kecil dan bangunan-bangunan semi permanen yang sekarang menjamur di sini. Bangunan semi permanen itu bukan bangunan biasa, pasalnya bangunan itu adalah semacam warung minuman dengan pekerja wanita yang di datangkan pemiliknya dari luar pulau. Sebagian pekerja itu berasal dari Palembang dan sebagian besar lainnya dari Jawa Barat. Keuntungan akan semakin besar jika pekerja-pekerja itu dari luar pulau, orang akan semakin banyak berkunjung begitulah menurut pemiliknya.
Di saat tengah asyik berkendara, tiba-tiba saja mataku menangkap sesosok yang tengah berbincang bersama seorang pria paruh baya di depan salah satu warung minuman. Sosok itu mengenakan t-shirt abu-abu muda bermotif bunga-bunga merah yang dipadu dengan celana jins selutut. Dari samping aku dapat melihat jelas matanya yang bulat bersinar, alisnya yang hitam lebat, rambutnya yang dikuncir ke belakang dan dibiarkan jatuh sedikit di bagian dahinya, serta senyumnya yang membuat bibirnya mengembang penuh pesona. Seketika tubuhku bergetar hebat, peluh yang memang sejak tadi bercucuran membasahi baju lusuhku kian banyak berjatuhan lantas mengalir membasahi wajahku. Sosok itu seakan kembali menguapkan luka lama beberapa tahun silam itu.
***
 “Ayolah Euis, jika kau menginginkan kehidupan yang layak, lebih baik ikut teteh saja bekerja di sana. Kau hanya tinggal mengandalkan kepiawaian mu sebagai seorang wanita yang merupakan perayu ulung, maka uang akan mengalir dengan sendirinya. Apalagi yang kau khawatirkan, di sana ada banyak teman sekampung kita yang juga bekerja seperti teteh”
Kalimat demi kalimat itu selalu terngiang memenuhi rongga otakku sejak petang itu di serambi warung Bi Neneng.
Setelah kurang lebih dua tahun bekerja di sana, Teh Ayu bisa rutin mengirim uang ke rumah setiap bulan nya. Menurut perkiraan ku jumlah uang bulanan itu cukup banyak, sehingga kini kedua orang tuanya telah berhenti bekerja menggarap sawah milik seorang juragan besar. Tak hanya itu saja, Teh Ayu, Diana, Rima, dan yang lainnya yang bekerja di sana setiap pulang kampung selalu fasih berkelakar mengenai perjalanan mereka ke sana yang harus ditempuh dengan jalur udara itu. Mereka selalu berceloteh asyik seakan-akan bekerja di sana betul-betul menjanjikan. Aku pun hanya mengangguk-angguk pelan sambil sesekali tersenyum kecil menimpali cerita-cerita mereka itu.
Seminggu setelah pertemuan di warung Bi Neneng itu, aku akhirnya memutuskan untuk ikut Teh Ayu yang akan kembali ke tempat kerjanya itu. Aku memutuskan untuk bekerja di sana. Sepanjang perjalanan itu, aku hanya diam menahan perasaan sedih yang menggenang di sanubariku. Aku sedih karena harus berpisah dengan ibu dan kedua anakku, tapi aku juga bingung karena tak mampu membayangkan pekerjaan baru yang akan aku geluti nanti.
Dan ternyata cerita teman-teman sekampungku itu tak keliru walaupun tak sepenuhnya benar. Tanpa terasa waktu terus melesat bagai desingan peluru. Sudah setengah tahun aku di sini, terlempar jauh dari kampung halaman ku di Pulau Jawa sana, bahkan bermimpi pun aku tak pernah bahwa akan mendapati diriku yang sekarang bekerja di bagian kecil Pulau Sumatra ini. Setiap hari rupiah demi rupiah kudapatkan dari tangan-tangan nakal yang legam dan bau apek itu. Menemani ngobrol dalam peliknya masalah anak istri yang menjadi tanggung jawab, membantu melepas penat, dan menguraikan sebuah kebersamaan yang ganjil. Sejauh ini  semuanya baik-baik saja bagiku, lambat laun tanpa ku sadari aku mulai menikmati pekerjaan ini. Tak peduli seperti apa sorotan negatif dari orang-orang pribumi di kampung ini terhadapku. Terlebih lagi ibu-ibu paruh baya, ibu-ibu muda, ibu-ibu dari ibu-ibu mereka yang selau memandang kami dengan tatapan sinis. Bagiku ini hanyalah masalah posisi saja, mereka tak sedang berada di posisiku dan aku tak di tengah posisi mereka.  
Mereka boleh saja mengeluhkan suaminya yang jarang pulang ke rumah, mereka sah-sah saja mengomel karena uang belanja yang tersendat-sendat, mereka lumrah saja menangisi perangai suaminya yang berdampak buruk bagi anak-anak mereka, tapi bolehkah aku mengungkapkan sedikit saja. Bolehkah aku berkoar juga atas cobaan bertubi-tubi yang menimpaku bahkan sejak masih dalam gendongan ibuku. Aku memang tak pernah tahu seperti apa figur seorang ayah, sejak aku dilahirkan yang kukenal hanyalah ibu. Aku tak pernah mau mencari tahu sebab musabab hal tersebut. Aku tumbuh seperti kebanyakan gadis lain di kampung. Aku memang sempat mengenyam pendidikan, tapi itupun hanya sampai lulus SD saja. Setelah itu aku sebagai putri satu-satunya harus membantu ibu bekerja apa saja guna mencukupi kebutuhan sehari-hari. Jika boleh jujur semua itu memang aku lakukan dengan terpaksa, keterpaksaan karena waktu bermainku harus terbagi dengan pekerjaanku membantu ibu. Lantas masa remaja pun datang, masa yang kata orang-orang adalah masa yang indah. Menginjak usia 15 tahun aku menikah dengan seorang pemuda kampung tetangga yang lima tahun terpaut usia dari ku. Ibu tentu saja memberi restu, tanpa perlu berpikir panjang ketika ada seorang pemuda yang melamar putri semata wayangnya yang hanya tamatan SD ini. Maka hari-hari yang indah pun menyambut masa-masa awal pernikahan kami. Bahkan tak perlu berselang lama aku telah melahirkan dua orang anak dari rahim ini. Hidup memang tak selamanya indah, meskipun bagiku memang tak pernah indah. Suamiku sekaligus ayah dari anak-anakku berselingkuh dengan seorang janda kaya dari kecamatan. Hanya karena janda sialan itulah ‘mantan’ suamiku itu tega menjatuhkan talak kepadaku lantas pergi selamanya tanpa mau tahu betapa kejamnya kenyataan hidup yang harus aku hadapi bersama kedua buah hati kecilku. Kedua buah hati ku itulah yang menjadi sumber kekuatanku untuk tetap bertahan bekerja di sini. Kini ibu sesekali memberi kabar dari rumah, mengabarkan si sulung yang semakin rajin belajar dan adiknya yang telah mampu berceloteh satu dua patah kata. Sungguh bahagia sekali hatiku mendengar semua itu, meskipun sesungguhnya aku merasakan kekosongan yang teramat sangat membuncah di jiwaku. Aku pun tak pernah paham apakah gerangan itu.
Sejatinya aku memang hanya lah perempuan biasa yang jauh dari kesan istimewa. Tak ada yang patut aku bangga kan dalam diriku, sekolah saja hanya sampai SD. Dalam usia yang belia bahkan sudah menjadi janda dengan dua orang anak. Di saat tengah sendiri aku selalu berpikir mengapa hidup ini harus selalu merasakan kekecewaan dari seorang mahkluk bernama laki-laki. Diawali oleh  ibuku yang tak pernah dinikahi secara resmi oleh lelaki yang menanam benih di rahimnya. Ternyata takdir itu masih melekat pada diriku, ku kira dengan memutuskan menikah aku akan merasakan kebahagiaan dari lelaki yang dulu ku cintai itu. Tapi ketulusan yang dulu aku lihat jelas di matanya, tak lebih dari sebuah kepalsuan semata. Perih sekali...
Kita memang tidak akan pernah tahu episode kehidupan seperti apa yang akan menghampiri. Meskipun terkadang kita selalu ingin menduga-duga. Apakah aku salah jika kini bekerja di sini? Apakah aku perusak rumah tangga orang? Apakah aku perampas kebahagiaan orang lain? Segalanya menjadi berbeda setelah aku mengenal dia, termasuk jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Selama berada di sini aku telah banyak bertemu dan mengenal lelaki pribumi kampung ini. Dari mulai para sopir truk pengangkut pasir, sopir truk pengangkut batu, para pemuda pengangguran, para bujang-bujang yang baru beranjak dewasa, para penambang timah kecil-kecilan, hingga bos besar yang merupakan pengumpul timah dari penambang kecil itu. Mereka membaur jadi satu di sini, tak ada yang peduli dengan status sosial, asal minum tidak ngutang bukan perkara. Tapi dia sungguh berbeda dari lelaki lainnya, sejak pertama kali bertemu aku telah memutuskan bahwa dialah lelaki melayu paling tulus sejagad raya. Jangan bandingkan dia dengan Parman si sopir truk itu, Parman jelas-jelas berbeda. Apalagi dibandingkan dengan Wandi bos besar timah yang jelas-jelas hobi menebar rayuan murahan tanpa sadar umur.
Telah seminggu sejak pertama kali kami berjumpa. Aku benar-benar merasa seperti gadis kembali, aku terkadang lupa jika statusku adalah janda dengan dua orang anak. Aku benar-benar merasakan hal yang berbeda jika berada di dekatnya. Mungkin sekarang adalah masa-masa remaja yang dulu telah kulewatkan dari episode kehidupan ini. Dia benar-benar membuatku mampu mengartikan betapa indahnya mencintai dan dicintai dengan tulus.

***
Sayup-sayup di beranda depan kudengar lantunan merdu suara ibu yang tengah mengaji. Duduk di beranda untuk melepas penat saat malam tiba adalah rutinitasku setelah dia pergi untuk selama-lamanya. Sesekali aku menyeruput secangkir kopi yang ku taruh di meja kayu di samping kursi. Sesekali pula tanganku dengan cekatan menghalau nyamuk-nyamuk yang datang kelaparan. Seminggu pertama sejak kepergianmu tanpa kusadari bulir-bulir bening hangat air mata selalu jatuh membasahi pipiku. Aku memang kuat bekerja berpanas-panas ria bermandikan cahaya matahari di siang yang terik, atau tanpa ragu membiarkan air hujan membasahi sekujur tubuhku saat ngelimbang. Itu tak soal, aku sudah sangat terbiasa sekali. Tapi ketika malam itu semuanya terjadi. Aku hanyalah sesosok bujang melayu yang rapuh, tak lebih. Malam itu masih terekam jelas dalam ingatanku, ketika dengan tergesa-gesa pak cik mu mendatangi rumah ku. Di tengah guyuran hujan beliau datang untuk mengabarkan kau yang baru saja menghembuskan nafas terakhir karena kecelakaan di pertigaan pasar, tepat di depan warung kopi Aliong. Petir yang menyambar-nyambar seakan tahu isyarat hatiku malam itu. Alam memang selalu piawai menerjemahkan sekitarnya. Lantas mengapa kau begitu tega meninggalkan ku sendiri? Bukankah kita sudah merencanakan pernikahan bulan depan? Bukankah kita sudah memesan baju pengantin dan dekorasi pelaminan pada mak inang? Bukankah kita sudah merencanakan ingin punya anak kembar? Oh... dan nama-nama untuk si kembar pun sudah kau siapkan? Kita sudah berjanji untuk selalu bersama-sama? Lantas mengapa kau pergi? Bagaimana dengan janji-janji dan mimpi kita? Mengapa kau begitu tega membiarkanku menangis pilu di atas pusara mu?
“Ahh...Santi...” tanpa sadar aku mendesah pelan
Semenjak kau pergi aku tak lagi merasa berjalan dengan kedua kaki ku. Aku selalu merasa tak seimbang karena berjalan dengan satu kaki layaknya orang pincang. Separuh jiwaku telah melayang bersama ragamu yang menyatu dengan tanah sejak saat itu. Tapi setelah sekian lama, malam ini aku merenung dan menyadari bahwa ada yang berbeda dalam diriku sejak bertemu wanita itu. Wanita yang kulihat untuk pertama kalinya saat pulang ngelimbang.
“Tahukah kau santi? Matanya sama seperti matamu. Aku bahkan tak percaya saat menyadari hal itu. Tak hanya itu, tawanya yang lepas juga selalu mengingatkanku akan tawamu. Dia begitu mirip denganmu. Dia adalah rupamu yang kembali untuk mengembalikan semangatku. Aku tahu kau akan senang jika melihatku tak lagi bersedih bukan? Aku menyayanginya sama seperti aku menyayangimu. Istirahatlah dengan tenang di sana dek, abang sudah menemukan kau kembali di sini”   
Tiba-tiba tanpa aku sadari ibu sudah duduk di kursi sebelahku. Beliau menatap takzim ke jalan raya yang cukup ramai dipenuhi kendaraan malam ini.
Umak kenapa keluar? Udara di luar cukup dingin, nanti Umak masuk angin”
“Aduh..Pandi jangan terlalu berlebihan. Walaupun sudah tua, Umak mu ini masih
  cukup kuat”
“Mak bolehkah aku mengajaknya kemari? Aku ingin dia bertemu langsung dengan Umak.
  Aku rasa sudah waktunya, aku tidak ingin berlama-lama lagi membujang”
“Apakah kau yakin dengan apa yang kau katakan itu?”
“Tentu saja aku yakin mak. Aku sudah memantapkan hatiku, tinggal menunggu restu dan izin
  dari Umak saja”
“Pandi, sebetulnya umak senang sekali melihat kau kembali bersemangat belakangan ini. Kau
  seakan sudah kembali menemukan gairah hidup semenjak kepergian Santi. Tapi Umak tidak
  habis pikir mengapa pilihanmu harus wanita yang bekerja di tempat itu. Bukankah kau
  sudah tahu, orang-orang di sini punya pandangan yang sangat negatif dengan wanita-wanita
  pendatang yang bekerja di situ. Umak hanya menginginkan kau mendapatkan pendamping
  hidup  yang baik ”
“Jadi menurut Umak wanita pilihanku ini bukan orang baik-baik?”
Umak tidak berkata seperti itu. Kau sekarang sudah dewasa. Kau tentu paham bagaimana
  seharusnya menjalani hidup ini. Lupakah kau bahwa wanita itu orang Sunda? Apakah kau
  tidak ingat dengan nasib Pak cik mu yang menikah dengan orang Sunda, lantas sekarang
  istrinya yang mengendalikan kehidupan dia sepenuhnya. Terlebih lagi masalah keuangan,
  dia tak pernah sepeser pun menghabiskan gajinya untuk keperluannya sendiri. Kasihan betul
  Pak cik mu itu”
“Tapi kan sekarang tentu semuanya sudah berbeda, mak. Hanya karena mak cik yang
  perangainya seperti itu dan dia orang sunda, maka umak semudah itu menilai Euis?”
“Yah,, kau betul sekali anakku. Perangai Mak cik mu itu bukanlah satu-satunya alasan umak.
  Tapi coba kau tengok si Amri anak Fatimah, setelah menikahi wanita yang dulunya bekerja
  di tempat itu, nampaknya dia semakin susah saja. Istrinya itu hanya tahu memeras keringat
  Amri semata, tapi tak telaten mengurus suami sendiri. Lagipula kau itu bujang melayu yang
  tampan, tak ubahnya seperti ayah mu. Kau pikirkan lah lagi perkataan umak.”
***
“Aduh Bang, pedas sekali gangan buatan umak abang ini”  Euis berujar sambil mengerjap-
  ngerjap menahan rasa pedas.
“Justru kalau tidak pedas, itu bukan gangan namanya dek. Orang melayu itu memang suka
  masakan yang pedas. Kalau orang sunda mungkin suka yang manis, karena orangnya
  memang manis-manis seperti yang duduk di samping abang sekarang. Nanti kau harus
  belajar masak gangan buat abang.”  Aku menimpali sembari tersenyum kecil.
“Ahh...dasar tukang merayu. Bang, apa abang tidak malu berencana menikah dengan
  perempuan seperti ku ini?”
  Aku memperbaiki posisi duduk ku dan menatapnya “ Malu? Malu yang seperti apa dek?
  Kau ini ada-ada saja, kenapa aku harus malu menikah dengan wanita yang punya pendirian
  kuat dan berani bertanggung jawab bahkan bukan hanya untuk hidupnya, tapi untuk hidup
  orang lain yang membuat nya merasa hidup.”
“Bang nanti setelah menikah Euis akan patuh ikut abang, Euis akan rela jika harus tetap   
  tinggal di Belitung”
“Iya, abang juga sudah mempertimbangkan hal itu. Memang lebih baik kita tetap tinggal di
  Belitung dulu, suatu waktu kalau ada rezeki lebih barulah kita mengunjungi ibu dan
  Anakmu. Hidup di Belitung itu enak Euis, aman, nyaman, dan tenteram. Kaum pendatang
  selalu suka menetap dan membuka usaha di sini.”
Beginilah kami belakangan, sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Menggenapi hari-hari dengan tawa dan canda. Seperti siang ini, kembali berkelakar dipayungi nyiur yang melambai-lambai tertiup angin pantai. Tiba-tiba Euis mengeluarkan dompet dari sakunya, lantas mengambil secarik foto usang yang nampaknya sudah di simpan begitu lama oleh pemiliknya.
“Bang ini foto bapak ku, aku memang tidak pernah melihatnya secara langsung sejak kecil
  selain dari foto lama yang aku minta paksa dari ibu ini. Aku ingin Abang melihatnya saja,
  bukan kah kita berencana menikah? Aku rasa tidak ada salahnya abang melihat foto bapak.”
Aku lantas menerima foto tersebut dan melihatnya. Wajahku memerah seketika, degup jantungku tak beraturan setelahnya, pikiran ku kacau balau tak mampu menalikan semua ini. Pria dalam foto itu sungguh tak asing bagiku.
***
EPILOG
Senja ini masih sama selayaknya hari-hari kemarin, jalanan yang kulalui pulang ngelimbang juga masih seperti biasanya, motor yang selalu setia menemani putaran kisah hidupku juga masih yang dulu, bahkan aku masih seorang bujang melayu yang masih menanti sesuatu bernama “cinta sejati”.
Kebakaran itu begitu dahsyat, sedahsyat luapan emosi sekumpulan ibu-ibu yang menyulutkan si jago merah malam itu. Sudah sejak lama tuntutan mereka untuk menghapuskan izin warung-warung minuman itu di anggap angin semusim saja oleh pemda. Mereka merasa tak ada hal lain yang menjadi perihal suami mereka yang semakin jarang pulang ke rumah dan memberi nafkah, selain bangunan-bangunan semi permanen itu. Begitu cepat api menghanguskan bangunan itu tanpa ampun, tak terkecuali beberapa nyawa malang di dalamnya termasuk kamu.
“Santi jagalah Euis demi abang di sana, jagalah adik perempuan abang satu-satunya itu. Dia sungguh wanita yang baik dan berhati mulia. Dia memang selalu diperlakukan tidak adil oleh takdir dunia, bahkan hingga ajal menjemput. Cinta sejatinya pun harus jatuh kepada orang yang keliru, hanya karena takdir di masa lalu yang diperbuat bapaknya yang juga ayahku. Ahh...dunia memang terlalu luas, bahkan teramat luas. Meskipun tak jarang terasa sempit dan pengap bagi orang-orang seperti kami, seperti aku dan Euis.”




Keterangan :
Gangan           :           Masakan khas dari pulau Belitung semacam gulai yang berwarna
                                    kuning.
Mak cik          :           Saudara perempuan dari ayah atau ibu / bibi
Mak Inang      :           Juru rias pengantin
Ngelimbang    :           Menambang timah dengan cara manual dan tradisional, biasanya
            menggunakan alat semacam kuali bekas.
Ngutang         :           Berutang
Pak cik          :           Saudara laki-laki dari ayah atau ibu / paman
Umak            :           Ibu





Tidak ada komentar:

Posting Komentar