Jumat, 11 Mei 2012

Garis


Kulitnya hitam manis, semanis gulali yang selalu mempunyai daya magnetis bagi serombongan semut. Bibirnya kecil mungil tipis hingga begitu kontras dengan sebentuk wajah oval yang menyertai. Ikal bergelombang itulah rambutnya, namun warnanya hitam kekuning-kuningan karena pengaruh buruk sinar ultarviolet. Gerakannya lincah seakan menggoda atau membuat gemas yang melihatnya. Dan namanya garis. Garis lurus, garis bengkok, garis berputar, garis meliuk, garis melingkar, atau garis apapun. Nama itu begitu saja diberikan bapaknya yang kini telah tiada. Tapi dia selalu percaya namanya melambangkan sebentuk harapan akan sebuah mimpi besar dalam garis kehidupannya.
****
Sudah setengah hari kami berkeliling, berpindah-pindah dari satu angkot ke angkot lainnya, mengumpulkan keping-keping receh sebagai balasan dari hiburan yang kami sajikan kepada para penumpang di dalam angkot. Hiburan? Garis selalu saja menyebutnya seperti itu, padahal menurutku terkadang kami malah membuat risih para penumpang angkot bukannya menghibur mereka. Lagipula pada hakikatnya kami hanya melantunkan syair-syair dalam balutan sebuah nada yang diiringi pentingan gitar asal-asalan oleh jemari Garis. Untung saja suara Garis memang merdu sehingga mampu mengurangi kekacauan bunyi pentingan gitarnya.  Setelah selesai bernyanyi maka kami akan mengedarkan bungkus permen kumal itu ke seluruh penjuru angkot demi mengharapkan mereka tengah berbaik hati dan rela memberikan kepingan-kepingan receh untuk kami. Begitulah semuanya berjalan berulang-ulang sejak matahari terbit hingga kembali lagi tenggelam di singgasananya.
Terkadang dalam sehari kami bisa mendapatkan uang yang lumayan sehingga pulangnya kami bisa membelikan emak sekotak martabak dan sisanya ditabung untuk biaya berobat beliau.  Namun tak jarang uang yang dengan susah payah kami kumpulkan seharian hanya cukup untuk mengganjal perut dengan sebungkus nasi plus lauk tempe dan tahu saja. Atau jika sedang benar-benar tidak beruntung kami tak mendapat uang sepeserpun, berangkat dengan penuh semangat dan pulang tanpa gairah sama sekali. Hal itu bisa saja terjadi  karena berbagai faktor, misalnya saja Garis yang sedang sakit tapi memaksakan diri berangkat mengamen. Biasanya kalau sudah seperti itu kami akan mengamen setengah hari dan pulang dengan tangan kosong. Jika keadaannya sudah begitu, aku akan mengomel di dalam hati. Aku akan merutuki Garis yang keras kepala, tidak mau istirahat di rumah saja hingga sembuh barulah kembali mengamen. Yah, Garis memang keras kepala. Dia tak pernah sekalipun ingin absen mengamen. Baginya sehari saja tidak berangkat mengamen maka kami sudah melakukan sebuah kesia-siaan.
“Hidup itu harus berusaha, bahkan berusaha keras. Kalau kita tidak berangkat mengamen berarti kita sama sekali tidak berusaha. Meskipun tidak akan ada hasilnya, tapi aku sudah berusaha semampuku. Kau tahu kepuasan hidup itu adalah ketika kita bisa memaksimalkan segala kemampuan dalam diri kita untuk berusaha.”
Aku sudah hafal celotehan Garis yang seperti itu. Aku pun akan menanggapinya dengan tersenyum kecut.  Kata-katanya itu bagiku sedikit sok tahu dan sok bijak, padahal dia kan baru berumur sebelas tahun. Huh...
Garis memang tumbuh berbeda dari kebanyakan anak perempuan seusianya. Dia adalah anak yang cerdas, sejak kecil dia selalu bertanya ini itu kepada bapak atau emak. Rasa penasaran seakan selalu menyala-nyala di kedua bola matanya. Kecerdasannya kian terbukti saat masuk Sekolah Dasar, emak dibuatnya menangis haru ketika pembagian rapor pertama kali karena dia berhasil menjadi juara pertama di kelas. Hingga kelas enam Garis selalu menjadi juara di kelasnya, tapi kecerdasan Garis tiba-tiba terabaikan begitu saja ketika bapak meninggal dan itu berarti Garis putus sekolah. Emak sudah cukup lama menderita asma sehingga harus banyak istirahat di rumah dan tidak boleh terlalu lelah bekerja, maka sebagai anak satu-satunya Garis lah yang kini menjadi tulang punggung keluarga.
****
Senja begitu temaram seakan menyimpan sebuah misteri yang membuncah di dalamnya. Di atas sana mendung tampak menggelayut manja, pertanda bahwa hujan akan turun sebentar lagi. Sesekali terdengar bunyi gemuruh bersahut-sahutan memecah belah kesunyian. Namun itu semua tak dipedulikan Garis, semua itu tak sedikitpun menyurutkan langkahnya untuk mampir dulu ke rumah Bu Anita sebelum pulang ke rumah. Aku untuk yang kesekian kalinya kembali merutuki tingkah garis di dalam hati. Bu Anita adalah seorang guru yang mempunyai perpustakaan gratis di rumahnya. Semenjak putus sekolah Garis selalu rutin ke rumah Bu Anita untuk memuaskan berbagai dahaganya dalam belajar. Banyak hal yang sering dilakukan Garis di sana, seperti meminjam buku, berdiskusi banyak hal dengan beliau, atau belajar banyak hal untuk mengejar ketinggalannya. Bu Anita selalu senang setiap Garis datang, beliau tahu bahwa Garis adalah anak yang cerdas. Setiap hal yang dijelaskannya kepada Garis akan begitu cepat dipahami oleh Garis. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Garis selalu mengisyaratkan betapa besar rasa keingintahuan anak itu.
****

Malam ini kami bertiga duduk mengitari meja makan kayu yang terletak di dapur. Semenjak bapak meninggal dan penyakit asma emak semakin menuntutnya banyak istirahat, meja makan ini jarang kami gunakan untuk makan bersama-sama.
“Alhamdulillah hari ini ada rezeki dari Allah, katanya bu RT tadi sore syukuran keberangkatan anaknya mau kuliah ke luar negeri dapat tunjangan dari pemerintah itu loh. Jadi ya bagi-bagi makanan ini ke warga sini”  Emak berujar sambil tersenyum
“Mungkin maksud Emak tunjangan itu adalah beasiswa. Karena mbak Ayu, anak bu RT itu berprestasi makanya dia berhak mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri. Beruntung sekali ya mak, mbak Ayu itu” Garis menimpali dan tatapannya menerawang jauh
“Iya, kita doakan saja semoga kuliahnya lancar. Tapi bukan berarti kau tidak beruntung nak. Kau memang harus berhenti sekolah semenjak bapak meninggal, kau memang tak bisa lagi mewujudkan mimpimu untuk terus sekolah hingga menjadi orang pintar, orang terpelajar. Tapi emak tak pernah melihat semangat di matamu padam sekejap pun, kau punya semangat yang luar biasa, kau selalu membuat emak bangga”
“Emak terlalu berlebihan, Garis tidak akan jadi diri Garis yang sekarang tanpa seorang emak yang lebih luar biasa”
“Dasar kau ini, ya sudah ayo kita makan. Jangan lupa baca doa dulu”
Rinai hujan terus membasahi setiap sudut di muka bumi seakan memayungi makan malam kali ini. Udara yang lembab seperti menguapkan kehangatan di tengah-tengah keluarga kecil kami. Bahagia itu memang sederhana, bahkan teramat sederhana karena akan nyata rasanya kala bersama dengan orang-orang yang kita sayangi.
****
Waktu terus berputar bagai desingan peluru kian berpacu tanpa mengenal jeda sama sekali. Kehidupan terus  bergulir meninggalkan beragam rekam jejak serupa lukisan-lukisan yang tertoreh di atas kanvas. Malam ini aku merenung, malam ini aku sendiri. Sesekali terdengar suara merdu emak yang tengah mengaji di kamarnya. Tanpa sadar bulir-bulir hangat air mata menetes di pipiku. Aku marah, aku benci, tapi tak tahu harus pada siapa melampiaskan semua itu.
Beberapa saat kemudian lamat-lamat ku dengar langkah emak menuju kemari. Secepat mungkin aku menghapus air mata yang telah membasahi kedua pipiku, emak tak boleh tahu aku tengah menangis. Beliau menghampiriku membawa aku duduk di pangkuannya. Malam semakin larut, tapi aku tahu emak belum mengantuk sama sekali. Semenjak hari itu emak memang selalu seperti ini, banyak menghabiskan waktunya dengan duduk di kursi ini menghadap ke jendela lantas menanti sesuatu yang tak kunjung kembali. Semenjak hari itu pula lah jika tengah sendirian aku selalu menangis karena sesuatu yang dinantikan emak juga aku nantikan, tapi nyatanya masih tetap saja tak kembali.
Peristiwa yang mengawali segala penantian kami ini masih terekam jelas dalam benakku. Ketika itu Garis telah berusia tiga belas tahun, dia telah beranjak remaja, tinggi badannya telah bertambah, rambutnya selalu dikuncir rapi tak lagi dibiarkan tergerai seenaknya, permainan gitar Garis juga mengalami kemajuan yang pesat karena proses belajar autodidak yang dilakukannya di sela-sela istirahat mengamen, dan satu hal yang ternyata baru kusadari adalah Garis telah menjelma menjadi seorang gadis yang manis.
Kala itu seperti biasanya kami tengah mengamen di sebuah angkot. Ketika sudah selesai kami bergegas melompat turun dari angkot tersebut, tapi belum jauh melangkah tiba-tiba saja ada yang mengejar kami dan memanggil-manggil Garis. Setelah aku amati orang itu adalah salah satu penumpang yang berada di dalam angkot tadi. Seorang pria berkulit putih berumur sekitar tiga puluh tahunan mengenakan pakaian rapi seperti pekerja kantoran menghampiri kami. Dia lah yang belakangan ku ketahui bernama Ryan, Garis memanggilnya om Ryan. Om Ryan memang orang yang pintar berkomunikasi, setiap rangkaian kata yang keluar dari mulutnya seakan mempunyai daya tarik tersendiri bagi lawan bicaranya.  Om Ryan mengatakan bahwa dia sangat terkesan dengan suara merdu Garis yang khas ketika mengamen di angkot. Dia juga merasa permainan gitar Garis yang hanya hasil belajar autodidak itu sungguh luar biasa, ada bakat besar dalam diri Garis. Om Ryan menyatakan bahwa dia bekerja di salah satu perusahaan rekaman di kota ini, oleh karena itu tentu saja dia bisa membantu Garis untuk menjadi seorang penyanyi terkenal. Sejak saat itu lah om Ryan menjadi dekat dengan Garis, sesekali bahkan mampir ke rumah di malam hari dengan membawa makanan untuk emak.
Akhirnya semua seperti sekarang ini. Garis pergi, meskipun sejak awal emak memang keberatan jika Garis menerima peluang yang ditawarkan om Ryan untuk menjadi penyanyi. Garis telah memilih dan dia tengah menjalani pilihannya itu sekarang. Mungkin om Ryan memang betul-betul berjasa telah menawarkan peluang itu kepada Garis, lihatlah Garis kini  telah menjelma menjadi salah satu penyanyi terkenal yang diidolakan para remaja. Hampir setiap hari wajah manisnya menghiasi tayangan televisi. Bahkan di perempatan jalan raya sana terdapat sebuah baliho besar iklan salah satu merk handphone dengan Garis sebagai modelnya.
Garis tetaplah Garis, meskipun ia bengkok tak selalu lurus dan sesekali meliuk. Sejak sukses menjadi seorang artis dia memang tak pernah pulang ke rumah, tapi dia rutin mengirim uang untuk emak. Bahkan suatu kali Garis pernah mengirimkan  selembar kertas yang bertuliskan jumlah uang dalam jumlah yang fantastis, bersama selembar kertas itu dia juga mengirimi emak surat. Dalam surat itu Garis meminta emak mengobati asma nya dengan intensif di rumah sakit terbaik di kota ini, dari surat itu lah emak tahu bahwa selembar kertas itu adalah sebuah cek yang  sengaja dikirimkan Garis untuk biaya pengobatan emak. Tapi toh emak tak melakukan pengobatan itu, bahkan semua uang yang dikirim Garis setelah pergi dari rumah disimpan begitu saja oleh emak di lemari reyotnya. Sehari-hari emak lebih senang mencukupi kebutuhannya dengan menggunakan uang tabungan Garis saat masih mengamen dulu, meskipun itu jauh dari cukup.
Emak masih diam dan menerawang jauh ke luar jendela. Kedua tangan keriputnya memelukku dalam pangkuannya. Tiba-tiba aku merasakan ada titik-titik air membasahi kepalaku, benar saja ternyata emak tengah menangis. Betapapun perihnya semenjak kepergian Garis, emak belum pernah sekalipun menangis. Beliau lebih banyak diam dan memendam kesedihannya di dalam hati, tapi malam ini Garis berulang tahun yang ke tujuh belas. Aku mengerti emak tak mampu lagi menahan kesedihan yang telah beranak-pinak di dalam hatinya selama ini, emak rindu Garis, emak ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada Garis lantas mengecup keningnya. 
Tapi aku hanya bisa terus diam tanpa gerak. Karena memang seperti itulah hakikat diriku sesungguhnya. Aku hanya bisa berbicara, menggerutu, tertawa, tersenyum, marah, dan menangis dalam dimensiku. Selama ini aku memang selalu setia mengikuti Garis kemanapun dia pergi. Ketika mengamen aku selalu ada di dalam tas lusuhnya dan menyembulkan sedikit wajah ku ke luar karena kancing tas yang rusak dan tak bisa lagi ditutup. Ketika istirahat mengamen aku duduk di pangkuan Garis menemaninya melahap nasi bungkus sambil sesekali mendengarkan celotehannya tentang berbagai hal. Jika celotehannya lucu dan mengundang tawa, maka aku akan terbahak-bahak merespon dalam dimensiku. Sebaliknya ketika sedang ada masalah dan Garis bercerita dengan murung, maka aku akan ikut menunduk dan ikut merasakan kesedihannya tentu saja dalam dimensiku.
Tujuh belas tahun yang lalu ketika tahu istrinya melahirkan anak perempuan, dengan penuh sukacita bapak mampir ke toko mainan sepulang kerja. Pilihannya jatuh kepada sebuah boneka perempuan bergaun pink muda berambut coklat ikal dikepang dua. Maka sejak hari itu boneka tersebut selalu berada di samping si bayi perempuan, menemaninya dengan setia. Kesetiaan yang terus terjaga seiring putaran episode kehidupan. Selalu bersama, saling menjaga dan menyayangi satu sama lain. Bayi perempuan itu adalah Garis, dan boneka bergaun pink muda itu tentu saja aku. Aku dan Garis, Garis dan aku adalah salah satu dari sekian banyak kisah kebersamaan yang penuh harmoni dalam bingkai kasih sayang antara manusia dan mainan kesayangannya.
****
Garis lurus, garis bengkok, garis berputar, garis meliuk, garis melingkar, atau garis apapun. Nama itu begitu saja diberikan bapak nya yang kini telah tiada. Tapi dia selalu percaya namanya melambangkan sebentuk harapan akan sebuah mimpi besar dalam garis kehidupannya.
Kepercayaan Garis akan sebuah garis kehidupan yang menuntunnya menemukan sebuah mimpi besar memang tak pernah redup. Semangat yang luar biasa senantiasa mengalir dalam setiap aliran darahnya seiring dengan keberanian yang ikut berdetak dalam setiap denyut nadinya. Hidup adalah sebuah pilihan, hidup untuk memilih, memilih untuk hidup, hidup untuk dipilih, dan dipilih untuk hidup. Jika saja kita jeli, nyatanya memilih itu hanya sebuah perkara kecil, yang jauh lebih memegang peranan adalah memutuskan pilihan yang akan kita pilih.  Betapapun aku dan terlebih emak yang sudah menjadi bagian dari hidup Garis ini, begitu kecewa dengan keputusan yang dipilihnya.
Garis telah meliuk sangat dahsyat hingga kini terlihat abstrak.
Oleh: Apriani Yulianti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar