Jumat, 11 Mei 2012

Garis


Kulitnya hitam manis, semanis gulali yang selalu mempunyai daya magnetis bagi serombongan semut. Bibirnya kecil mungil tipis hingga begitu kontras dengan sebentuk wajah oval yang menyertai. Ikal bergelombang itulah rambutnya, namun warnanya hitam kekuning-kuningan karena pengaruh buruk sinar ultarviolet. Gerakannya lincah seakan menggoda atau membuat gemas yang melihatnya. Dan namanya garis. Garis lurus, garis bengkok, garis berputar, garis meliuk, garis melingkar, atau garis apapun. Nama itu begitu saja diberikan bapaknya yang kini telah tiada. Tapi dia selalu percaya namanya melambangkan sebentuk harapan akan sebuah mimpi besar dalam garis kehidupannya.
****
Sudah setengah hari kami berkeliling, berpindah-pindah dari satu angkot ke angkot lainnya, mengumpulkan keping-keping receh sebagai balasan dari hiburan yang kami sajikan kepada para penumpang di dalam angkot. Hiburan? Garis selalu saja menyebutnya seperti itu, padahal menurutku terkadang kami malah membuat risih para penumpang angkot bukannya menghibur mereka. Lagipula pada hakikatnya kami hanya melantunkan syair-syair dalam balutan sebuah nada yang diiringi pentingan gitar asal-asalan oleh jemari Garis. Untung saja suara Garis memang merdu sehingga mampu mengurangi kekacauan bunyi pentingan gitarnya.  Setelah selesai bernyanyi maka kami akan mengedarkan bungkus permen kumal itu ke seluruh penjuru angkot demi mengharapkan mereka tengah berbaik hati dan rela memberikan kepingan-kepingan receh untuk kami. Begitulah semuanya berjalan berulang-ulang sejak matahari terbit hingga kembali lagi tenggelam di singgasananya.
Terkadang dalam sehari kami bisa mendapatkan uang yang lumayan sehingga pulangnya kami bisa membelikan emak sekotak martabak dan sisanya ditabung untuk biaya berobat beliau.  Namun tak jarang uang yang dengan susah payah kami kumpulkan seharian hanya cukup untuk mengganjal perut dengan sebungkus nasi plus lauk tempe dan tahu saja. Atau jika sedang benar-benar tidak beruntung kami tak mendapat uang sepeserpun, berangkat dengan penuh semangat dan pulang tanpa gairah sama sekali. Hal itu bisa saja terjadi  karena berbagai faktor, misalnya saja Garis yang sedang sakit tapi memaksakan diri berangkat mengamen. Biasanya kalau sudah seperti itu kami akan mengamen setengah hari dan pulang dengan tangan kosong. Jika keadaannya sudah begitu, aku akan mengomel di dalam hati. Aku akan merutuki Garis yang keras kepala, tidak mau istirahat di rumah saja hingga sembuh barulah kembali mengamen. Yah, Garis memang keras kepala. Dia tak pernah sekalipun ingin absen mengamen. Baginya sehari saja tidak berangkat mengamen maka kami sudah melakukan sebuah kesia-siaan.
“Hidup itu harus berusaha, bahkan berusaha keras. Kalau kita tidak berangkat mengamen berarti kita sama sekali tidak berusaha. Meskipun tidak akan ada hasilnya, tapi aku sudah berusaha semampuku. Kau tahu kepuasan hidup itu adalah ketika kita bisa memaksimalkan segala kemampuan dalam diri kita untuk berusaha.”
Aku sudah hafal celotehan Garis yang seperti itu. Aku pun akan menanggapinya dengan tersenyum kecut.  Kata-katanya itu bagiku sedikit sok tahu dan sok bijak, padahal dia kan baru berumur sebelas tahun. Huh...
Garis memang tumbuh berbeda dari kebanyakan anak perempuan seusianya. Dia adalah anak yang cerdas, sejak kecil dia selalu bertanya ini itu kepada bapak atau emak. Rasa penasaran seakan selalu menyala-nyala di kedua bola matanya. Kecerdasannya kian terbukti saat masuk Sekolah Dasar, emak dibuatnya menangis haru ketika pembagian rapor pertama kali karena dia berhasil menjadi juara pertama di kelas. Hingga kelas enam Garis selalu menjadi juara di kelasnya, tapi kecerdasan Garis tiba-tiba terabaikan begitu saja ketika bapak meninggal dan itu berarti Garis putus sekolah. Emak sudah cukup lama menderita asma sehingga harus banyak istirahat di rumah dan tidak boleh terlalu lelah bekerja, maka sebagai anak satu-satunya Garis lah yang kini menjadi tulang punggung keluarga.
****
Senja begitu temaram seakan menyimpan sebuah misteri yang membuncah di dalamnya. Di atas sana mendung tampak menggelayut manja, pertanda bahwa hujan akan turun sebentar lagi. Sesekali terdengar bunyi gemuruh bersahut-sahutan memecah belah kesunyian. Namun itu semua tak dipedulikan Garis, semua itu tak sedikitpun menyurutkan langkahnya untuk mampir dulu ke rumah Bu Anita sebelum pulang ke rumah. Aku untuk yang kesekian kalinya kembali merutuki tingkah garis di dalam hati. Bu Anita adalah seorang guru yang mempunyai perpustakaan gratis di rumahnya. Semenjak putus sekolah Garis selalu rutin ke rumah Bu Anita untuk memuaskan berbagai dahaganya dalam belajar. Banyak hal yang sering dilakukan Garis di sana, seperti meminjam buku, berdiskusi banyak hal dengan beliau, atau belajar banyak hal untuk mengejar ketinggalannya. Bu Anita selalu senang setiap Garis datang, beliau tahu bahwa Garis adalah anak yang cerdas. Setiap hal yang dijelaskannya kepada Garis akan begitu cepat dipahami oleh Garis. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Garis selalu mengisyaratkan betapa besar rasa keingintahuan anak itu.
****

Malam ini kami bertiga duduk mengitari meja makan kayu yang terletak di dapur. Semenjak bapak meninggal dan penyakit asma emak semakin menuntutnya banyak istirahat, meja makan ini jarang kami gunakan untuk makan bersama-sama.
“Alhamdulillah hari ini ada rezeki dari Allah, katanya bu RT tadi sore syukuran keberangkatan anaknya mau kuliah ke luar negeri dapat tunjangan dari pemerintah itu loh. Jadi ya bagi-bagi makanan ini ke warga sini”  Emak berujar sambil tersenyum
“Mungkin maksud Emak tunjangan itu adalah beasiswa. Karena mbak Ayu, anak bu RT itu berprestasi makanya dia berhak mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri. Beruntung sekali ya mak, mbak Ayu itu” Garis menimpali dan tatapannya menerawang jauh
“Iya, kita doakan saja semoga kuliahnya lancar. Tapi bukan berarti kau tidak beruntung nak. Kau memang harus berhenti sekolah semenjak bapak meninggal, kau memang tak bisa lagi mewujudkan mimpimu untuk terus sekolah hingga menjadi orang pintar, orang terpelajar. Tapi emak tak pernah melihat semangat di matamu padam sekejap pun, kau punya semangat yang luar biasa, kau selalu membuat emak bangga”
“Emak terlalu berlebihan, Garis tidak akan jadi diri Garis yang sekarang tanpa seorang emak yang lebih luar biasa”
“Dasar kau ini, ya sudah ayo kita makan. Jangan lupa baca doa dulu”
Rinai hujan terus membasahi setiap sudut di muka bumi seakan memayungi makan malam kali ini. Udara yang lembab seperti menguapkan kehangatan di tengah-tengah keluarga kecil kami. Bahagia itu memang sederhana, bahkan teramat sederhana karena akan nyata rasanya kala bersama dengan orang-orang yang kita sayangi.
****
Waktu terus berputar bagai desingan peluru kian berpacu tanpa mengenal jeda sama sekali. Kehidupan terus  bergulir meninggalkan beragam rekam jejak serupa lukisan-lukisan yang tertoreh di atas kanvas. Malam ini aku merenung, malam ini aku sendiri. Sesekali terdengar suara merdu emak yang tengah mengaji di kamarnya. Tanpa sadar bulir-bulir hangat air mata menetes di pipiku. Aku marah, aku benci, tapi tak tahu harus pada siapa melampiaskan semua itu.
Beberapa saat kemudian lamat-lamat ku dengar langkah emak menuju kemari. Secepat mungkin aku menghapus air mata yang telah membasahi kedua pipiku, emak tak boleh tahu aku tengah menangis. Beliau menghampiriku membawa aku duduk di pangkuannya. Malam semakin larut, tapi aku tahu emak belum mengantuk sama sekali. Semenjak hari itu emak memang selalu seperti ini, banyak menghabiskan waktunya dengan duduk di kursi ini menghadap ke jendela lantas menanti sesuatu yang tak kunjung kembali. Semenjak hari itu pula lah jika tengah sendirian aku selalu menangis karena sesuatu yang dinantikan emak juga aku nantikan, tapi nyatanya masih tetap saja tak kembali.
Peristiwa yang mengawali segala penantian kami ini masih terekam jelas dalam benakku. Ketika itu Garis telah berusia tiga belas tahun, dia telah beranjak remaja, tinggi badannya telah bertambah, rambutnya selalu dikuncir rapi tak lagi dibiarkan tergerai seenaknya, permainan gitar Garis juga mengalami kemajuan yang pesat karena proses belajar autodidak yang dilakukannya di sela-sela istirahat mengamen, dan satu hal yang ternyata baru kusadari adalah Garis telah menjelma menjadi seorang gadis yang manis.
Kala itu seperti biasanya kami tengah mengamen di sebuah angkot. Ketika sudah selesai kami bergegas melompat turun dari angkot tersebut, tapi belum jauh melangkah tiba-tiba saja ada yang mengejar kami dan memanggil-manggil Garis. Setelah aku amati orang itu adalah salah satu penumpang yang berada di dalam angkot tadi. Seorang pria berkulit putih berumur sekitar tiga puluh tahunan mengenakan pakaian rapi seperti pekerja kantoran menghampiri kami. Dia lah yang belakangan ku ketahui bernama Ryan, Garis memanggilnya om Ryan. Om Ryan memang orang yang pintar berkomunikasi, setiap rangkaian kata yang keluar dari mulutnya seakan mempunyai daya tarik tersendiri bagi lawan bicaranya.  Om Ryan mengatakan bahwa dia sangat terkesan dengan suara merdu Garis yang khas ketika mengamen di angkot. Dia juga merasa permainan gitar Garis yang hanya hasil belajar autodidak itu sungguh luar biasa, ada bakat besar dalam diri Garis. Om Ryan menyatakan bahwa dia bekerja di salah satu perusahaan rekaman di kota ini, oleh karena itu tentu saja dia bisa membantu Garis untuk menjadi seorang penyanyi terkenal. Sejak saat itu lah om Ryan menjadi dekat dengan Garis, sesekali bahkan mampir ke rumah di malam hari dengan membawa makanan untuk emak.
Akhirnya semua seperti sekarang ini. Garis pergi, meskipun sejak awal emak memang keberatan jika Garis menerima peluang yang ditawarkan om Ryan untuk menjadi penyanyi. Garis telah memilih dan dia tengah menjalani pilihannya itu sekarang. Mungkin om Ryan memang betul-betul berjasa telah menawarkan peluang itu kepada Garis, lihatlah Garis kini  telah menjelma menjadi salah satu penyanyi terkenal yang diidolakan para remaja. Hampir setiap hari wajah manisnya menghiasi tayangan televisi. Bahkan di perempatan jalan raya sana terdapat sebuah baliho besar iklan salah satu merk handphone dengan Garis sebagai modelnya.
Garis tetaplah Garis, meskipun ia bengkok tak selalu lurus dan sesekali meliuk. Sejak sukses menjadi seorang artis dia memang tak pernah pulang ke rumah, tapi dia rutin mengirim uang untuk emak. Bahkan suatu kali Garis pernah mengirimkan  selembar kertas yang bertuliskan jumlah uang dalam jumlah yang fantastis, bersama selembar kertas itu dia juga mengirimi emak surat. Dalam surat itu Garis meminta emak mengobati asma nya dengan intensif di rumah sakit terbaik di kota ini, dari surat itu lah emak tahu bahwa selembar kertas itu adalah sebuah cek yang  sengaja dikirimkan Garis untuk biaya pengobatan emak. Tapi toh emak tak melakukan pengobatan itu, bahkan semua uang yang dikirim Garis setelah pergi dari rumah disimpan begitu saja oleh emak di lemari reyotnya. Sehari-hari emak lebih senang mencukupi kebutuhannya dengan menggunakan uang tabungan Garis saat masih mengamen dulu, meskipun itu jauh dari cukup.
Emak masih diam dan menerawang jauh ke luar jendela. Kedua tangan keriputnya memelukku dalam pangkuannya. Tiba-tiba aku merasakan ada titik-titik air membasahi kepalaku, benar saja ternyata emak tengah menangis. Betapapun perihnya semenjak kepergian Garis, emak belum pernah sekalipun menangis. Beliau lebih banyak diam dan memendam kesedihannya di dalam hati, tapi malam ini Garis berulang tahun yang ke tujuh belas. Aku mengerti emak tak mampu lagi menahan kesedihan yang telah beranak-pinak di dalam hatinya selama ini, emak rindu Garis, emak ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada Garis lantas mengecup keningnya. 
Tapi aku hanya bisa terus diam tanpa gerak. Karena memang seperti itulah hakikat diriku sesungguhnya. Aku hanya bisa berbicara, menggerutu, tertawa, tersenyum, marah, dan menangis dalam dimensiku. Selama ini aku memang selalu setia mengikuti Garis kemanapun dia pergi. Ketika mengamen aku selalu ada di dalam tas lusuhnya dan menyembulkan sedikit wajah ku ke luar karena kancing tas yang rusak dan tak bisa lagi ditutup. Ketika istirahat mengamen aku duduk di pangkuan Garis menemaninya melahap nasi bungkus sambil sesekali mendengarkan celotehannya tentang berbagai hal. Jika celotehannya lucu dan mengundang tawa, maka aku akan terbahak-bahak merespon dalam dimensiku. Sebaliknya ketika sedang ada masalah dan Garis bercerita dengan murung, maka aku akan ikut menunduk dan ikut merasakan kesedihannya tentu saja dalam dimensiku.
Tujuh belas tahun yang lalu ketika tahu istrinya melahirkan anak perempuan, dengan penuh sukacita bapak mampir ke toko mainan sepulang kerja. Pilihannya jatuh kepada sebuah boneka perempuan bergaun pink muda berambut coklat ikal dikepang dua. Maka sejak hari itu boneka tersebut selalu berada di samping si bayi perempuan, menemaninya dengan setia. Kesetiaan yang terus terjaga seiring putaran episode kehidupan. Selalu bersama, saling menjaga dan menyayangi satu sama lain. Bayi perempuan itu adalah Garis, dan boneka bergaun pink muda itu tentu saja aku. Aku dan Garis, Garis dan aku adalah salah satu dari sekian banyak kisah kebersamaan yang penuh harmoni dalam bingkai kasih sayang antara manusia dan mainan kesayangannya.
****
Garis lurus, garis bengkok, garis berputar, garis meliuk, garis melingkar, atau garis apapun. Nama itu begitu saja diberikan bapak nya yang kini telah tiada. Tapi dia selalu percaya namanya melambangkan sebentuk harapan akan sebuah mimpi besar dalam garis kehidupannya.
Kepercayaan Garis akan sebuah garis kehidupan yang menuntunnya menemukan sebuah mimpi besar memang tak pernah redup. Semangat yang luar biasa senantiasa mengalir dalam setiap aliran darahnya seiring dengan keberanian yang ikut berdetak dalam setiap denyut nadinya. Hidup adalah sebuah pilihan, hidup untuk memilih, memilih untuk hidup, hidup untuk dipilih, dan dipilih untuk hidup. Jika saja kita jeli, nyatanya memilih itu hanya sebuah perkara kecil, yang jauh lebih memegang peranan adalah memutuskan pilihan yang akan kita pilih.  Betapapun aku dan terlebih emak yang sudah menjadi bagian dari hidup Garis ini, begitu kecewa dengan keputusan yang dipilihnya.
Garis telah meliuk sangat dahsyat hingga kini terlihat abstrak.
Oleh: Apriani Yulianti

Jumat, 09 Maret 2012

selamat jalan lelaki "pendengar berita"

Selang beberapa menit saja ibu dua kali menelpon ku malam ini. Yang pertama mengabarkan bahwa kakekku yang memang telah belasan tahun menderita lumpuh itu sepertinya sudah tampak letih, bahkan ibu sudah diminta ke rumahnya. Selang beberapa menit kemudian ibu kembali menelpon, firasatku jelas saja benar ternyata. Telpon ibu yang kedua itu mengabarkan bahwa kakek baru saja menghembuskan nafas terakhirnya. Sambil terisak ibu memintaku untuk mendoakan kakek meskipun hanya dari jauh.
Kakek.... aahhhh kita memang tak begitu dekat, apalagi sangat dekat. Kakek memang lumpuh sejak sebuah kecelakaan menimpanya belasan tahun silam. Saat itu aku masih di tahun-tahun awal SD. Dan semenjak itulah kakek mengalami kelumpuhan hingga saat ini. Bayangkan, sekarang saja aku sudah tingkat tiga di bangku kuliah. Berarti belasan tahun sudah kakek menghabiskan hari-harinya dengan berbaring saja. Itu jelas saja bukan sesuatu yang mudah. Kakek adalah lelaki yang hebat, kakek sering membelikan oleh-oleh makanan saat pulang kerja di Tanjungpandan. Kakek memang tipe orang kantoran yang selalu berkelakar hebat penuh antusias. Kakek itu orang yang pintar, begitulah ibu pernah berceloteh. Menurut pengamatanku, apa yang ibu ucapkan itu bukan sekedar isapan jempol belaka. Kakek di tengah kelumpuhannya selama ini memang tak pernah absen mendengarkan berita.  Kenapa aku mengatakan itu mendengarkan berita, karena sejatinya beliau memang hanya bisa berbaring, maka volume televisi lah yang akhirnya di putar sekeras mungkin. Kebiasaan itu nantinya akan menjadi sebuah kenangan mengesankan di benakku bahkan saat malam ini. Selain itu, kakek juga masih sangat fasih berkelakar banyak hal, dari mulai politik hingga seluk beluk suatu daerah. Mengenai seluk beluk suatu daerah aku punya kenangan tersendiri. Kala itu aku masih SMP, pada suatu lomba aku dan teman-teman berhasil berkompetisi hingga tingkat kabupaten dan kemudian mewakili kabupaten ke tingkat provinsi. Kakek sebetulnya memang asli dari pulau Bangka, maka ketika lomba itu aku bercerita di mana kami menginap selama kegiatan berlangsung. Di luar dugaanku kakek dengan lancar menyebutkan lokasi penginapan tersebut lengkap dengan lingkungan sekitarnya. Ingatan beliau memang luar biasa gumamku dalam hati.
Setiap hari beliau tak kan pernah lupa menanyakan tanggal, hari, dan, bahkan pukul berapa saat itu. Entahlah kenapa, dulunya pertanyaan itu akan di jawab oleh nenekku yang selalu setia merawat beliau dengan di sertai guyonan. Nenekku selalu berkata, ‘kenapa nanya-nanya memangnya mau berangkat ke mana’. Kini, malam ini aku sedikit saja menyimpulkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan beliau yang terkesan bawel itu sebagai pertanda akan berapa lama lagi beliau bisa bersama kami, menghabiskan waktu dan hari-harinya berbaring di kasur. Selama belasan tahun beliau hanya terbaring lumpuh di kasur, nenek lah yang selalu setia merawat beliau. Dari mulai bangun tidur hingga kembali terlelap, dari mulai makan, mandi, menggantikan baju, hingga menggaruk bekas gigitan nyamuk. Soal yang satu ini, nenek di kemudian hari akan menginspirasiku sebagai sosok istri yang sebenar-benarnya istri.
Kemarin libur semester yang singkat itu, aku bersyukur sekali karena memutuskan untuk pulang ke rumah. Ternyata saat itu adalah pertemuan terakhirku dengan beliau. Seperti biasa, setiap aku pamit akan kembali ke bandung kami selalu terlibat kelakar singkat. Beliau tak pernah lupa bertanya berapa harga tiket pesawat kau kali ini, jam berapa di jemput ke bandara, dan sebagainya.
Hampir saja aku lupa, saat pulang kemarin ibu juga sempat bercerita bahwa kakek bisa bermain saxsofon, bahkan dulu beliau memiliki alat musik tiup tersebut...kakek memang luar biasa ku kira.
Kini tak kan ada lagi sebuah kasur yang menyambut di ruang tengah tempat kakek terbaring biasanya, kini tak kan ada lagi sesi mmendengarkan berita ala kakek , kini tak kan ada lagi lelaki yang selalu berkelakar antusias di tengah kelumpuhan yang menggerogoti ketuaannya.
Kakek beristirahatlah dengan tenang, beristirahatlah dari sakit mu selama belasan tahun ini. Semoga engkau mendapatkan tempat terbaik di sisi NYA...AMIN.
Maaf kan kami yang sungguh selalu menganggapmu rewel dan bawel dalam sakitmu selama ini....

Rabu, 15 Februari 2012

Buku ”harian (diary)”



Saya rasa hampir setiap orang pada masa awal-awal remajanya pernah memiliki sebuah buku harian, terlebih lagi seorang wanita. Sebuah buku manis bersampul pink bermotif bunga-bunga manis nan mengkilat adalah tempat mencurahkan segala manis dan pahit serta suka dan duka hari-hari remaja, itulah buku harian. Dari mulai bahagia mendapat senyuman dari kakak kelas yang dididolakan di sekolah, hingga merasa kesal saat dimarahi ibu semuanya ada dalam buku harian kita. Kita dan buku harian menjadi sangat dekat, hanya kepada buku harian lah kita mampu dengan fasih mencurahkan dan berbagi atas setiap detail kisah sehari-hari yang kita alami. Kadangkala tak jarang buku harian terasa seperti sebuah pertanda bahwa kita sudah remaja, dengan memiliki buku harian kita patut merasa bahwa kita sudah bukan anak-anak lagi. Aahhh....yang jelas betapa indah romansa buku harian ketika zaman-zaman SMP dulu....hehe.

Sekarang di saat saya dudah menginjak semester 6 ini, hampir setiap pulang ke rumah tak pernah absen saya mengobrak-abrik salah satu lemari di sudut rumah yang isinya adalah buku-buku saya ketika SMP hingga SMA. Tentu saja di antara buku-buku itu, buku harian ketika SMP selalu menjadi sesuatu yang menyita perhatian saya. Membaca isinya saya seakan-akan sedang terlempar ke saat-saat SMP dulu, saya seakan-akan tengah mencium aroma khas seragam putih biru yang saya kenakan sambil sesekali sibuk menyeka ujung-ujung halus rambut saya yang berjatuhan dari kuncirnya...^^

Kini, entahlah saya kurang paham apakah histeria yang saya rasakan tentang sebuah teman bernama buku harian kala SMP itu, masih melekat dengan anak-anak SMP zaman sekarang. Seiring waktu yang terus bergulir dengan segala kecanggihan yang kian merajai pelosok bumi ini, rasanya sedikit demi sedikit banyak hal-hal menyenangkan yang sekarang mulai ditinggalkan oleh remaja masa kini karena tergerus arus modernisasi dan semacamnya...


Senin, 30 Januari 2012

KELINGKING PUTRI BAMBU

Akhirnya punya kesempatan lagi untuk meluangkan waktu mengajak jari-jari saya menari-nari lincah di atas keyboard ini. Saya memang sedang tidak sibuk apalagi disibukkan oleh seabrek aktifitas, terlebih sok menyibukkan diri. Yah..... lebih kepada penyakit alami (baca : malas). Hehe...
Semalam menyempatkan diri sebentar untuk menjenguk blog saya sekedar iseng di sela-sela memantau akun facebook tentunya. Dan ternyata eh ternyata pengikut blog saya bertambah satu (jika sebelumnya memang hanya satu, yaitu saya)...haha. waahh,,,senang sekali ketika bertambah satu pengikut di blog saya, tapi tiba-tiba saya sadar jika blog saya ini tergolong lumayan “gersang”, postingannya sedikit dan jarang diperbaharui maka timbul pula rasa malu. Memang saya akui blog ini adalah blog kedua yang saya buat setelah blog pertama yang saya buat karena tugas matakuliah Media Pembelajaran. Blog pertama itu passwordnya lupa, maka saya pun memutuskan untuk membuat blog lagi.  Setelah saya pikir-pikir pengikut baru ini kemungkinan besar mendapat alamat blog saya dari biodata saya sebagai salah satu penulis pada buku “Kelingking Putri Bambu” yang merupakan buku himpunan cerita rakyat belitong.
Ehmm...maka baiklah, pada kesempatan ini saya akan bercerita mengenai “kelingking Putri Bambu” yang menjadi penyebab saya memutuskan pulang ke Belitung di sisa libur semester ganjil yang tinggal tersisa beberapa hari lagi. Pada awal-awal libur kemarin saya dan teman-teman melakukan kegiatan praktikum matakuliah Problematik Bahasa Indonesia dengan berkunjung ke Balai Bahasa Yogyakarta, untuk melakukan semacam diskusi mengenai berbagai masalah problematik dalam Bahasa Indonesia. Kegiatan praktikum itu berlangsung selama 3 hari ditambah kegiatan refreshing dan jalan-jalan ke berbagai tempat wisata di kota gudeg itu. Maka setelah pulang dari Yogyakarta sisa liburan saya tinggal kurang lebih satu minggu. Otomatis keinginan untuk tidak pulang sudah bulat dalam tekad saya. Akan tetapi beberapa hari kemudian niat yang sudah bulat itu goyah seketika ketika membuka email dan mengecek di inbox terdapat email undangan dari panitia lomba sayembara penulisan ulang cerita rakyat Belitong. Bulan desember lalu saya memang mengirimkan empat buah naskah cerita rakyat Belitong yang sudah saya tulis ulang dengan sudut penceritaan masa kini, dalam rangka mengikuti sayembara penulisan ulang cerita rakyat belitong yang diadakan oleh Komunitas Sastra Lenggang. Saya tertarik dengan lomba tersebut karena naskah yang terpilih sebagai pemenang nantinya akan dibukukan. Saya berpikir ini akan jadi pengalaman pertama yang menyenangkan bagi seorang penulis awam seperti saya...hehe.  Maka setelah mendapat undangan untuk menghadiri acara pengumuman pemenang itu saya pulang ke Belitung. moment ini juga bertepatan dengan HUT kabupaten Belitung Timur yang ke-9. Berikut adalah foto saya bersama para pemenang lainnya, jajaran pejabat daerah Belitung Timur dan panitia lomba sesaat setelah pengumuman pemenang.




Dan berikut adalah cover dari buku himpunan cerita rakyat Belitong yang memuat naskah seluruh pemenang sayembara termasuk naskah saya di dalamnya. Buku ini di beri judul “KELINGKING PUTRI BAMBU” (HIMPUNAN CERITA RAKYAT BELITONG). Seperti niat awal Panitia lomba yang menginginkan sayembara ini nantinya akan menghasilkan cerita rakyat Belitong yang tidak lagi kuno, tapi diceritakan dengan sudut penceritaan masa kini tanpa menghilangkan hakikat cerita rakyat itu sendiri. Maka semua cerita dalam buku tersebut adalah angin segar bagi generasi masa kini. Kita tidak akan dijejali dengan pemaparan yang membosankan tapi cenderung kekinian dan tetap mendapatkan makna dari cerita rakyat itu sendiri.





Selanjutnya adalah foto daftar isi cerita yang terdapat dalam buku tersebut. Oh iya,,, adapun pemenang lomba tersebut beserta judul naskahnya adalah sebagai berikut : Alee Kitonanma (Putri Bambu), pemenang I; Wulandari Amor Ganelsa (Kelingking), pemenang II ; Dra.Nurmariana (Padang Buang Anak), pemenang III. Selanjutnya penulis terbaik (berdasarkan abjad) : Alief SM (Hikayat Tuk Rangga Tuban dan Keramat Bujang); Apriani Yulianti (Telaga Moyang Manis; Riwayat Putri Nurjanu atawa Nibong Belegong) ; Dana Dayan (Mak Cuan); Iggoy el Fitra (Legenda Antu Berasuk); Rihani Derais (Ular Renggiong); Wahyuni Ismail (Si kantan); dan Wuri Wigunaningsih (Nek Tegalong Buntut).







Dari empat naskah yang saya ikut sertakan dalam lomba, Alhamdulillah dua diantaranya berhasil mendapat juara. Telaga Moyang Manis mendapatkan penulis terbaik ke-3 sementara itu Riwayat Putri Nurjanu (Nibong Belegong) berhasil mendapatkan penulis terbaik ke-6.
Mengharu biru sekali rasanya setelah membaca buku “Kelingking Putri Bambu” tersebut, menyadari karya saya telah bersanding dengan karya-karya pemenang lainnya yang luar biasa. Menyadari sebagian pemenang adalah penulis yang sudah malang-melintang di dunia tulis menulis saya pun bertambah bahagia, di antara mereka ada yang sudah pernah beberapa kali menelurkan karyanya dalam buku-buku antologi cerpen maupun puisi, di antara mereka ada yang berprofesi sebagai jurnalis dan rutin menulis berbagai artikel tentunya, bahkan di antara mereka ada yang sudah memiliki nama pena. Telaga Moyang Manis dan Riwayat Putri Nurjanu (Nibong Belegong) yang terdapat dalam buku “Kelingking Putri Bambu” ini telah saya posting di blog ini sebelumnya.
Terima kasih kepada Allah SWT yang tanpa izin dan kehendaknya semua ini tidak akan seperti ini, terima kasih kepada kedua orang tua saya, para panitia sayembara ini, para dewan juri, kepada “orang dekat yang bukan kerabat apalagi sekedar sahabat”, dan semua yang menyayangi saya. Saya sangat sadar hal ini bukanlah apa-apa. Lagi-lagi semoga saja hal ini bisa menjadi motivasi bagi saya, anda, dan siapapun untuk memperkaya dunia tulis-menulis di Indonesia.  ^^

Riwayat Putri Nurjanu / Nibong Belegong



“Aaahhhhhh.....lelah sekali”
Aku mendengus pelan di sela-sela rintik hujan malam ini. Langkahku kian gegabah beradu cepat dengan air hujan. Suara kecipak-kecipuk terdengar merdu dari harmonisasi gesekan kakiku pada tanah coklat ini. Sejenak melepas kejenuhan dari rutinitas berladang aku dan yang lainnya selalu berbondong-bondong menyaksikan pertunjukkan campak sebagai hiburan di kampung kami.. Ternyata hujan tak mau berkompromi juga, bahkan semakin garang memuntahkan bulir-bulirnya. Aku lalu berlari-lari kecil dengan agak kerepotan mengimbangi daun pisang yang kugunakan sebagai pelindung kepala dari air hujan malam ini. Akhirnya tiba juga di rumahku, yang mungkin lebih tepat dengan nama gubuk bagi sebagian orang. Tapi aku tak sedikitpun peduli dengan hal itu, ini adalah hasil keringatku sendiri. Aku bangga dengan semua ini.
Sesaat kemudian aku sudah merebahkan diri di kamarku. Kamarku adalah sebuah ruangan kecil dengan dinding-dinding kayu yang dipenuhi bolong-bolong kecil di sana sini. Tubuhku hanya beralaskan kulit kayu jika melepas lelah hingga pulas di sini. Tapi aku selalu suka di sini, di kamar ini. Hal itu tentu saja bukan karena dinding bolongnya, atau karena alas tidur kulit kayunya tapi karena dia. Memikirkannya, membayangkannya, mengingatnya, dan mengenangnya terangkum indah dalam siluet kekaguman.
Ku miringkan tubuhku ke kanan, dan benci sekali aku karena di dinding ada dua ekor cicak yang tengah di mabuk asmara. Yang jantan terlihat menebar pesona penuh muslihat kepada betina. Dari sekilas gerak-geriknya aku tahu mereka tengah merasakan yang namanya cinta. Cinta begitu klise bagiku, sedikitpun aku tak pernah paham apa itu cinta. Cinta itu tak sempat ku pahami karena sejak kecil aku sudah disibukkan dengan yang namanya kerja keras di ladang. Terlebih aku adalah seorang lelaki, beginilah adat di kampung kami.
Mungkin bagi si jantan cicak betina itu begitu memesona. Selayaknya pesona dia di mataku. Dia memang begitu memesona, setiap jengkal yang ada dalam dirinya adalah hal berharga yang tiada duanya.  Parasnya begitu sempurna. Kulitnya bening laksana kaca, bahkan jika dia minum air yang diminumnya itu seakan terlihat jika melewati kerongkongannya. Rambutnya panjang terurai hitam memikat. Tingginya semampai jauh melampaui gadis-gadis seumurannya di desa kami. Apabila dia sedang berjalan, maka akan terhenti semua pekerjaan yang tengah dilakukan karena terpesona oleh keelokkan rupanya. Bukan main cantiknya bunga desa kami itu. Dia lah Putri Nurjanu.  Putri Nurjanu adalah anak gadis Dayang Samak. Beliau adalah orang yang lumayan dihormati di kampung kami, yaitu Kampung Kelekak Nangak. 
Tiba-tiba cicak betina itu bergerak menjauh menyiratkan keangkuhannya kepada si jantan. Mungkin itu lah sifat wanita jika merasa dirinya tengah dieluk-elukan lelaki. Tak terkecuali Putri Nurjanu tentunya. Kecantikannya menjadikan dia anak kesayangan Dayang Samak. Meskipun setiap hari ibunya itu bekerja keras membanting tulang, tapi tak pernah sekalipun Putri Nurjanu membantu ibunya ke ladang. Hari-harinya selalu disibukkan dengan kegiatan bersolek. Akan tetapi ibunya tak pernah sekalipun mempermasalahkan hal itu.
Putri Nurjanu memiliki seorang teman dekat yang bernama Bujang Dultalip. Bujang inilah yang selalu setia menemani hari-harinya. Akan tetapi penduduk tidak pernah menghiraukan perangai Putri Nurjanu dan temannya itu. Penduduk sekitar merasa bangga karena berkat kecantikan Nurjanu banyak orang dari kampung tetangga yang berkunjung ke kampung kami karena rasa penasarannya. Suatu ketika hasil panen penduduk Kelekak Nangak berlimpah dan meningkat cukup drastis. Tak terkecuali pula dengan Dayang Samak. Oleh karena itu, timbullah keinginan Dayang Samak untuk merayakan hal tersebut. Atas saran Dayang Samak maka penduduk patungan untuk mengumpulkan uang membeli alat-alat bercampak, seperti : Tawak-tawak, Gendang, gong besar, sedang, kecil, serta sejumlah alat pukul lainnya seperti Kelinang. Setelah terkumpul uang untuk membeli perlengkapan musik itu, maka kehidupan di kampung kami pun jadi makin meriah. Campak adalah kesenian tradisional dari Pulau Belitung. Biasanya dipertunjukkan oleh beberapa pasang penari pria dan wanita diiringi oleh alat musik dan nyanyian khasnya. Semenjak itu lah kami punya hiburan di sela-sela kegiatan sehari-hari.
Singkat cerita tidak hanya mengusulkan membeli alat musik campak. Tapi Dayang Samak kemudian merubah corak kehidupan kampung kami. Kalau sebelumnya rumah-rumah di kampung kami hanya berasal dari kulit kayu dan lantai gelegar saja, kini banyak penduduk yang membuat rumah berlantaikan tanah. Dayang Samak berpikir jika dia harus lebih dari yang lainnya, dia pun membangun rumah tinggi, dan menjadi paling tinggi di Dudat saat itu.  Hal ini pun juga menjadikan Nurjanu semakin angkuh karena merasa berbeda dari penduduk kampung kami lainnya. Maka semenjak saat itu, keangkuhan dan kesombongan Nurjanu semakin menjadi-jadi.
Hujan di luar semakin lebat. Tapi aku sedikit pun belum merasakan kantuk. Sebetulnya sekarang bukan musim hujan, bahkan sudah cukup lama hujan tidak turun. Tadi pagi ketika aku berangkat ke ladang tak sedikit pun nampak tanda-tanda akan hujan. Begitu pun hingga senja menjelang semuanya terlihat damai saja. Malamnya tentu saja aku dan seluruh penduduk kampung tidak berharap hujan datang sama sekali. Tapi nyatanya malam ini setelah pertunjukkan selesai dengan serta merta hujan turun. Entah ingin mengabarkan apa. Tapi bagiku tetes demi tetes air hujan malam ini seakan membawa kembali kepingan yang hilang itu.
Malam ini adalah waktunya pertunjukkan campak. Bukan main senangnya hati kami mendengar kata ‘campak’. Karena hiburan ini selalu kami nanti-nantikan. Tua muda membaur jadi satu saling bercengkrama sambil menyaksikan pertunjukkan campak. Sedari tadi aku menyebutkan semua penduduk kampung kami, maka tak terkecuali Putri Nurjanu tentunya. Sebagai bunga desa, Putri Nurjanu adalah salah satu penari campak yang ditunggu-tunggu semuanya.
Ku lirik dua ekor cicak tadi. Ternyata mereka masih betah di sana. Tapi kali ini betina nya terlihat sedikit menggoyangkan ekornya. Entahlah apa maksudnya, aku pun tak paham. Namun goyangan ekor si betina itu menguapkan memoriku pada lengak-lenggoknya ketika menari campak. Siapa lagi kalau bukan Putri Nurjanu. Kepiawaiaannya dalam menari campak selalu menarik setiap pasang mata yang menyaksikannya. Lentik jemarinya berpadu serasi dengan lincah hentakan kakinya. Wajahnya yang putih berseri memantul indah penuh keangkuhan. Sorot matanya tajam penuh muslihat. Ah, aku selalu suka dengan sorot matanya itu. Setiap menari campak dia selalu memilih berpasangan dengan laki-laki paling tampan di antara yang ikut campak. Hal itu membuat laki-laki yang tidak bisa bercampak dengannya menjadi rendah diri dan tak mau ikut bercampak.
Suatu sore seperti biasanya, Putri Nurjanu tengah duduk berangin-angin di bagian atas rumah tinggalnya. Sore itu masih seperti biasanya banyak lelaki yang lewat walau hanya sekedar melihat. Tapi dengan tanpa rasa bersalah karena keangkuhannya dia meludahi setiap lelaki yang lewat. Hingga suatu ketika terjadi peristiwa itu, dia meludahi seorang pemuda yang konon dari daerah Belantu. Begitu Nurjanu meludah pemuda itu langsung menatap dan memungut ludah yang jatuh dekat kakinya itu. Kemudian pemuda itu berlalu dari hadapan Nurjanu dengan diiringi derai tawa penghinaan darinya.
“Wanita itu harus diberi pelajaran. Jangan karena cantik dia menjadi sombong” gerutu pemuda itu di dalam hati penuh dengan dendam. Dia pun langsung pulang ke Belantu sambil merencanakan pembalasan atas penghinaan Nurjanu.
Masalah yang satu ini aku tak pernah sedikit pun seceroboh mereka. Mereka semua yang mengagumi paras elok Nurjanu. Aku tak pernah sekali pun menginginkan menari campak bersamanya. Aku tak pernah sekali pun lewat di dekatnya untuk sekedar melihat wajah rupawannya itu. Aku lebih senang mengaguminya tanpa tergesa-gesa. Sebetulnya aku hanya menyukai sorot mata angkuhnya itu. Maka aku lebih senang melihatnya menari campak dari jauh, maka aku lebih puas memandangnya dari kejauhan di sore hari. Aku lebih senang dengan bias kesombongan dari ekor matanya ketika menatap.
Jenuh menyaksikan drama dua ekor cicak itu, aku lalu berbalik telentang menatap atap-atap daun rumbia yang sudah bocor di sana-sini itu. Atap-atap itu seakan memantulkan fatamorgana dari atas langit gelap yang pekat malam ini. Celahnya seakan mengamatiku yang tengah berbaring di sini. Mengamati gerak-gerik ku sedari tadi. Selayaknya pemuda dari Belantu itu ketika suatu hari kembali ke kampung kami. Rasa dendam betul-betul sudah menguasai pemuda itu. Dia merasa sakit hati dan kecewa atas penghinaan Putri Nurjanu beberapa waktu yang lalu. Suatu ketika dia kembali terlihat di kampung kami dengan menjinjing sebuah keranjang bambu.  Matanya tak pernah lepas mengawasi gerak-gerik Nurjanu setiap pagi dan sore. Rupanya pemuda itu tengah mencari tahu di mana si jelita yang sombong itu mandi. Akhirnya dia pun tahu Nurjanu selalu mandi di Air Magnum dikawal Bujang Dultalip tentunya.  Suatu siang dia pergi ke bagian hulu Air Magnum. Tak ada satu orang pun yang tahu apa kegiatan pemuda itu di sana.
Suatu hari ketika tengah mandi di Air Magnum seperti biasanya, Nurjanu mendekati bagian hulu. Dia menjadi penasaran karena banyak penduduk yang menceritakan ada sebatang bambu aneh yang tumbuh di hulu Air Magnum. Ketika sudah dekat dengan bambu itu dia tak menemukan sedikit pun keanehan. Dia kemudian kembali mandi dan tertawa cekikikan seperti ada yang menggelikan hatinya. Beberapa saat kemudian Nurjanu berteriak histeris, kontan saja teriakannya itu membuat Bujang Dultalip mendekat. Alangkah terkejutnya Dultalip ketika menyaksikan tubuh Nurjanu telah terbujur kaku. Putri yang sombong itu telah tewas. Dultalip pun lalu membawa mayat Nurjanu ke rumah Dayang Samak dan di kuburkan di sebuah tempat yang tak jauh dari rumah tersebut. Sejak saat itu tak seorang pun penduduk kampung kami berani mandi di Air Magnum sebab akan tewas seketika seperti nasib Nurjanu. Konon,dari kisah inilah racun Belantu jadi terkenal.
Merasa takut akan jatuh korban berikutnya semua penduduk kampung kami hijrah ke kampung tetangga. Kampung ini bernama Prepat sekitar lima kilometer dari Dudat. Kami membawa seluruh barang-barang, termasuk alat musik pengiring untuk becampak. Di tempat baru itu kami pun tetap melanjutkan kehidupan dengan mencari pekarangan untuk di buat pekasam. Kami juga tak lupa sesekali menghibur diri dengan menari campak setelah letih bekerja seharian. Namun setelah Nurjanu tiada setiap kali penduduk Prepat becampak dengan menggunakan alat musik dari Dudat, seringkali terlihat seorang putri cantik di tengah pertunjukkan ikut menyaksikan orang becampak. Penduduk menduga dia adalah arwah Nurjanu yang penasaran.
Pada suatu malam Dayang Samak mendapat mimpi bahwa untuk menenangkan arwah putrinya, gong besar pengiring musik campak harus dikuburkan tak jauh dari kuburan Nurjanu. Akhirnya setelah bermufakat dengan tetua kampung diaraklah gong besar itu dari Prepat ke Kelekak Aik Nangkak untuk di kuburkan berdampingan dengan makam Nurjanu.
Yah, begitulah sesungguhnya. Jelita kampung kami yang angkuh itu kini telah tiada karena kesombongannya sendiri. Memang setiap sore tak ada lagi yang duduk menjuntaikan kaki di rumahnya sekedar menebar pesonanya. Tapi semenjak itu pula aku bagian itu menjadi penting dalam ingatanku. Memang tak ada lagi lenggak-lenggoknya yang berbalut keangkuhan menghiasi tarian campak. Tapi semenjak itu pula lebih dari sebelumnya aku tak pernah absen menyaksikan pertunjukkan campak. Ini terdengar aneh mungkin. Tapi aku tak peduli. Setelah Nurjanu tiada, aku menyadari betapa aku mengaguminya  justru karena kesombongannya itu. Ini adalah sepotong dari serangkaian kisah hidupku yang nanti akan ku ceritakan pada keturunanku. 


Malam semakin kelam.  Aku perlahan terpejam. Mengacuhkan sepasang cicak yang sejak tadi dimabuk asmara. Hingga besok pagi kembali menjelang.
******
Beberapa tahun setelah gong tersebut di kuburkan,di atas kedua kuburan tersebut muncul masing-masing sebatang pohon nobong ( nibung ).Sejak saat itulah kuburan dan tempat gong tadi terkenal dengan sebutan Nibong Belegong,yang diinterpretasikan pohon nibung yang ada gongnya.

Menurut si empunya cerita hingga saat ini peralatan musik campak dari Dudat itu masih bisa dimainkan. Namun,kalau suara gong terdengar sember maka harus di bersihkan dengan air pekasam dari Dudat. Setelah itu gong itu pun akan berbunyi nyaring kembali. Malah suaranya akan terdengar makin nyaring jika malam semakin larut.

Menurut penduduk setempat saat ini di tempat Nibong Belegong tadi kadang sering terdengar suara gong lalu disusul dengan munculnya Putri Nurjanu yang sedang menari.

(Naskah ini ditulis ulang dengan sudut penceritaan masa kini oleh Apriani Yulianti )