Rabu, 12 November 2014

ide itu...



Sebetulnya bingung mau memulai dari mana dan berakhir di mana. Intinya kali ini tetiba menyadari kekhilafan bahwa telah sekian lama vakum menulis di blog. Dan...kesadaran itu muncul sebetulnya ketika sedang mengoreksi tugas siswa. Siswa??? Yah, begitulah sekarang saya sudah resmi “berbagi ilmu dan pengalaman” bersama siswa di SMA N 1 Gantung. Saya lebih senang menyebut “berbagi ilmu dan pengalaman” untuk mengajar. Sebetulnya banyak kekagetan yang melanda saat harus beradaptasi “berbagi ilmu dan pengalaman” bersama siswa di SMA N 1 Gantung. Tapi segala kekagetan itu akan saya ceritakan nanti, di moment khusus (inipun kalau kekuatan untuk menulis senantiasa berkobar) hehe.....
Balik lagi ke masalah mengoreksi tugas siswa... saya berpikir, kenapa tugas-tugas siswa yang berupa teks atau tulisan tidak dipublikasikan saja di blog. Setelah dirasa ide ini cukup cemerlang maka nantikanlah postingan-postingan berikutnya di blog ini yang memuat buah tangan siswa-siswa ku. ^_^

Jumat, 15 Februari 2013

Seharusnya sedang mengerjakan RPP tapi saya malah menulis tulisan ini



Entahlah, di tengah hujan gerimis yang membangkitkan hawa dingin berbalut senyap itu jadinya pengen nulis. Hehe seharusnya memang saya tengah dikejar-kejar deadline RPP. Pasalnya tentu saja sekarang tengah melaksanakan PPL sebagai kewajiban menjalani salah satu matakuliah yang dikontrak di semester akhir ini. Akkhh..semester akhir itu datang begitu cepat rasanya. Mungkin bukan hanya saya yang merasakan hal ini, setiap orang tentu sering mengalami suatu masa ketika dia merasa sebuah moment begitu cepat menghampiri hidupnya.
Baiklah, PPL itu adalah Program Pengalaman Lapangan yang merupakan salah satu matakuliah bagi mahasiswa kependidikan. Matakuliah ini sungguh berbeda dari matakuliah lainnya. Pelaksanaannya pun bukan lagi seperti perkuliahan biasa di kelas. Mahasiswa yang bersangkutan harus terjun langsung ke sekolah pilihannya untuk menjalankan berbagai tugas layaknya seorang guru. Berbagai tugas?? Yah, karena para mahasiswa PPL tidak hanya mengajar saja, tapi juga berkewajiban menyiapkan segala perangkat pembelajaran semacam RPP dan media pembelajaran, kemudian melaksanakan kewajiban piket, lalu membina ekstrakurikuler, dan tentu saja tidak lupa mengikuti upacara bendera tiap senin pagi.
Sesungguhnya bagi saya pribadi ada banyak sekali pembelajaran selama PPL ini. Bukan hanya berupa materi-materi atau teori-teori tapi lebih ke pelajaran bagi diri sendiri. Salah satu yang paling penting adalah belajar bersabar menghadapi tingkah anak didik yang beragam. Ini memang terdengar sepele sekali, tapi sungguh tak mudah pada kenyataannya. Ketika berada di kelas dan menghadapi tingkah siswa yang beragam saya jadi ingat wajah guru-guru saya dulu dari SD hingga SMA. Sekarang barulah saya paham apa yang mereka rasakan dulu ketika berada di kelas. Senantiasa ada kesabaran di balik kejengkelan mereka, selalu ada pengertian yang berarti di balik emosi yang akan menghampiri. Tapi semuanya indah, terlalu indah bahkan. Sebetulnya masih banyak lagi yang ingin saya curahkan selama beberapa minggu telah menjalani PPL ini. Mungkin akan dilanjutkan nanti di lain waktu dan kesempatan -__-

Sabtu, 06 Oktober 2012

Lara



Jarak selalu mengubah segalanya, termasuk mengubah aku dan kamu
Jeda selalu membayangi menjadi kian menakutkan bagiku
Tak kan ada yang mampu menerjemahkan rasa ini
Tidak juga malam apalagi siang
Saat sepi kian meradang
Kala sendiri menghampiri
Semuanya kian membuncah menoreh lara

Kamis, 09 Agustus 2012

KKN (Kebersamaan Kita ‘Never Ending’)


KKN adalah tiga huruf mujarab yang mempertemukan kita semua.
Kita yang sebelumnya mungkin sebagian tak saling mengenal satu sama lain.
Kita yang sebelumnya tak saling menyangka akan bekerjasama dalam satu kelompok.
Kita yang sebelumnya tak pernah mengira akan bertemu sembilan orang keluarga baru yang luar biasa. Hehehe.....
Oke, sebelum jari-jari saya menari lincah lebih jauh lagi untuk menulis tulisan iseng dan mungkin ‘agak gak penting ini’, saya mohon maaf karena sudah lancang dan mungkin lagi terkesan agak lebay dengan menulis tulisan ini... hehe. Sebetulnya ini tak lebih dari salah satu kebiasaan saya untuk menuangkan pengalaman-pengalaman yang saya anggap berharga dan menarik dalam hidup saya ke dalam sebuah bentuk yang berwujud, seperti sebuah tulisan. Setidaknya suatu saat nanti tulisan ini akan menjadi rekam jejak yang bisa membuat saya kembali mengingat setiap pengalaman itu diwarnai beragam ekspresi. Hehe....
Heemmm... baiklah, rasanya masih terekam jelas dalam ingatan betapa ribetnya sistem pendaftaran KKN dulu. Mulai dari kesimpangsiuran info di sana sini, perbaikan sistem pendaftaran yang terkesan lamban dan berbagai mitos yang beredar dari mulut ke mulut. Hal ini tentu saja tidak akan menjadi seribet itu, jika KKN adalah sebuah matakuliah yang pelaksanaannya sama seperti matakuliah lainnya, cukup dengan perkuliahan tatap muka di kelas bersama teman-teman sekelas. Tapi KKN akan kita lewati dengan sembilan orang teman baru dari berbagai jurusan, KKN akan kita lewati dengan bekerja sama dengan teman-teman baru yang sebagian besar mungkin belum kita kenal.
Beberapa waktu berselang akhirnya kesimpangsiuran itu berakhir, kita pun kemudian tahu siapa saja sembilan orang lainnya yang akan berada dalam kelompok yang sama dengan kita. Beruntunglah saat ini dengan kecanggihan teknologi yang ada proses ‘perkenalan’ di antara kita menjadi lebih mudah dan gampang. Dari mulai alat komunikasi berupa handphone hingga berbagai jejaring sosial di dunia maya terasa sangat berjasa dalam proses ‘perkenalan KKN sebelum kita bertatap muka secara langsung.  Jujur saja saat pertama kali kita sepakat untuk ‘kopdar’ di partere, ketika tengah sibuk sms dan mencari-cari teman-teman yang lain, sempat terlintas dalam pikiran saya bagaimana jika ‘kopdar’ KKN semacam ini dilakukan di saat belum adanya handphone. Tentu saja akan sangat sulit mencari teman yang sebelumnya belum pernah kita temui secara langsung di sebuah tempat yang lumayan luas... hehe..
Selain itu sebelum kita akhirnya bertemu, di dalam benak saya berseliweran berbagai pertanyaan yang berujung pada kekhawatiran dan sedikit rasa penasaran yang menggelitik. “Seperti apa yah teman-teman KKN saya ini?” mungkin kurang lebih seperti itulah salah satu pertanyaan tersebut...hehe
Dan Alhamdulillah setelah beberapa saat mencari ke sana kemari kita berhasil bertemu. Awalnya tentu saja suasana masih terkesan agak kaku, namun itu tak berlangsung lama karena akhirnya pembicaraan kita saat itu bisa berlangsung santai dan kian akrab..hehe...
Dan hari ini tanpa terasa KKN akan segera berakhir, empat puluh hari yang panjang itu akan segera tergenapi kurang lebih empat hari lagi. Mungkin banyak hal yang telah kita dapatkan selama kebersamaaan singkat ini, kita bukan hanya mempelajari empat divisi inti dalam tema MBS. Tapi lebih dari itu kita belajar memahami satu sama lain, kita belajar menghargai pendapat yang bertolak belakang dengan pemikiran kita, kita belajar berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang-orang baru, kita belajar menerima keputusan yang tak sejalan dengan keinginan kita, kita belajar bersabar dan mengalah dalam kesempatan tertentu, kita belajar mempelajari banyak hal-hal kecil tak terduga..hehe....
Bahagia mengenal kalian semua, bahagia berkesempatan bekerja sama dan dipertemukan dengan kalian semua. Karena tanpa KKN yang ‘sensasional’ ini kita mungkin hanya sepuluh mahasiswa UPI angkatan 2009 dari jurusan berbeda-beda yang tak akan saling mengenal.. hehe... maaf jika selama kebersamaan singkat ini ada banyak kesalahan yang telah saya lakukan baik disengaja maupun tidak disengaja.. mohon maaf lahir batin teman-teman..^__^
Meskipun sudah capek dan sedikit jenuh di akhir-akhir masa KKN ini tapi tak bisa dimungkiri suatu saat nanti akan ada saat-saat kita merindukan masa-masa ini.  Merindukan suasana hari-hari selama sebulan yang lalu, naik turun angkot menuju Sukabungah. Merindukan suasana angkot Cimindi-Sederhana yang selalu penuh sesak ibu-ibu dan barang belanjaannya dari pasar. Merindukan jajanan di SD yang murah, meriah, dan menggoda. Oh...dan tentu saja merindukan kalian semuahhh. Dan pada hakikatnya tak kan pernah lupa kronologis KKN, mulai dari awal pendaftaran, perkenalan, survei lokasi, serta kegiatan bersama yang mengurai emosi jiwa bercampur derai tawa...  indah karena penuh warna.... hehe
Semoga berakhirnya KKN nanti tidak menjadikan tali silaturahmi antara kita bersepuluh ikut berakhir......  

Jumat, 20 Juli 2012

Putri Pinang Gading


Pada zaman dahulu kala hiduplah sepasang suami istri yang hidup rukun dan damai. Akan tetapi sudah cukup lama mereka menikah dan belum dikaruniai seorang anak. Suatu hari ketika sang suami pergi ke hutan dia menemukan sebatang bambu aneh. Karena penasaran bambu tersebut dibawanya pulang ke rumah. Singkat cerita bambu tersebut digunakan oleh sang istri menindih tikar untuk menjemur padi. Beberapa saat kemudian terdengar suara letusan dari halaman rumah mereka. Ternyata suara tersebut berasal dari bambu yang meletus, dari kejauhan tampak cahaya berkilauan dari arah bambu yang kini telah terbelah dua itu. Yang lebih mengejutkan ternyata ada seorang bayi mungil yang berada di antara kedua bambu yang terbelah tersebut.
Semenjak kejadian tersebut kehidupan suami istri itupun menjadi semakin bahagia. Dengan sepenuh hati mereka mencurahkan kasih sayang kepada putri nya yang diberi nama Pinang Gading. Hari berganti hari dan bulanpun menahun, Pinang Gading telah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik jelita. Pinang Gading juga dikenal pemberani dan sangat mahir memanah. Kemahirannya dalam memanah sudah terkenal ke seluruh desa. Suatu ketika terdengar sebuah kabar malapetaka dari desa tetangga. Penduduk desa tersebut ketakutan karena serangan dari seekor burung garuda raksasa yang sering mengganggu mereka. Mendengar berita tersebut Pinang Gading yang pemberani berniat pergi ke desa itu dan bertarung melawan burung tersebut. Akhirnya pada hari yang telah ditentukan, Pinang Gading berangkat dengan berbekal panah beracun yang dimilikinya.
Suasana yang sepi dan mencekam menyambut kedatangannya di desa tersebut. Beberapa saat kemudian sebagian penduduk nampak berlari ketakutan mencari perlindungan. Terdengar suara burung Garuda yang menggelegar dari kejauhan. Pinang Gading bersiap-siap membidikkan anak panahnya ke arah burung raksasa itu.  Seketika itupula bidikannya tepat mengenai dada burung Garuda,  lantas sang burung jatuh ke tanah dengan darah segar yang mengucur dari dadanya. Alangkah terkejutnya Pinang Gading karena tiba-tiba burung Garuda tersebut perlahan berubah menjadi sesosok pria paruh baya. Seluruh warga desa yang sedari tadi bersembunyi lalu ikut mendekat melihat peristiwa aneh itu. Di tengah kesakitannya burung yang kini telah berubah menjadi manusia itu memanggil-manggil nama Pinang Gading. Pinang Gading pun berlari menghambur dan memeluk pria tersebut setelah menyadari bahwa sosok yang kini tengah kesakitan itu adalah ayahnya.  Sambil menangis tersedu-sedu Pinang Gading menanyakan kepada ayahnya apa yang sebenarnya telah terjadi. Dengan terbata-bata ayahnya menceritakan bahwa kutukan burung Garuda adalah akibat dari perjanjiannya dengan dewata. Belasan tahun yang lalu dia memohon kepada dewata agar dikaruniai seorang anak meski dengan  syarat apapun. Akhirnya dewata mengabulkan permintaannya dengan memberikan Pinang Gading pada sebatang bambu. Akan tetapi sebagai akibatnya dia harus menjadi burung Garuda raksasa yang selalu mengganggu warga desa. 

*sinopsis dari cerita asli yang telah diubah pada beberapa bagian untuk arahan pada pementasan drama musikal.